MEDAN, METROPOST
Rakyat Deli Serdang diminta untuk mencermati dengan seksama “track record” para Bakal Calon (Balon) Bupati dan Wakil Bupati yang akan maju dalam Pilkadasung mendatang . Hal ini perlu diingat , karena wilayah Deli Serdang berbatasan dan menjadi daerah penghubung antara Kota Medan sebagai ibukota provinsi dan Kabupaten Serdang Bedagai. Selain itu, secara geografis wilayah Deli Serdang memiliki sumber daya manusia dan sumber daya alam yang berlimpah dan berpotensi bila dikelola dengan baik.
Jika rakyat Deli Serdang tidak hati-hati memilih Balon dan hanya didasari atas kemurahan hati Balon pada saat menjelang Pilkada, maka rakyat Deli Serdang tidak akan mengalami perubahan dan akan kecewa dengan wujud asli pemimpin mereka.
Hal ini ditegaskan Ketua Umum PB Gerakan Peduli Masyarat Jawa (GPMJ) Sumatera Utara, H.S.Poernomo didampingi Bendahara Amin Mendung dan unsur PD GPMJ Deli Serdang kepada wartawan , Senin (21/7) di Medan menanggapi munculnya berbagai masalah terkait Balon Bupati dan Wakil Bupati Deli Serdang.
Dikatakannya, saat ini bermunculan Balon dari berbagai kalangan dengan latar belakang yang berbeda, baik yang sudah dikenal secara luas maupun baru muncul kepermukaan saat menjelang Pilkada. Mereka juga memiliki catatan yang berbeda mulai dari yang berpengalaman di Birokrasi , Legislatif hingga tokoh Dadakan. Perlu diingat wilayah Deli Serdang merupakan wilayah perkebunan dan pertanian sebagai sumber devisa daerah dan negara. Dia kembali mengingatkan agar rakyat Deli Serdang jangan mudah terlena dengan janji-janji muluk Balon yang akhirnya malah memperburuk keadaan.
“ Dengan kondisi tersebut jangan sampai kelak tanah perkebunan atau pertanian di Deli Serdang digadaikan untuk kepentingan sekelompok orang sehingga akhirnya rakyat Deli Serdang semakin terpuruk kehidupannya “ ungkap Poernomo.
Mengenai Balon yang layak memimpin Deli Serdang, Poernomo mengatakan warga Jawa yang merupakan penduduk mayoritas di Deli Serdang pasti menginginkan Tokoh Jawa bisa ikut memimpin Deli Serdang lima tahun kedepan. Sedangkan sosok yang layak tersebut menurutnya haruslah memenuhi kriteria kepemimpinan yakni, bersih, jujur, profesional, berpendidikan, berpengalaman dan mampu mengakomodir berbagai kepentingan serta memiliki keinginan kuat untuk mensejahterakan seluruh rakyat Deli Serdang. Selain itu, mampu mencegah Korupsi sebagai bagian dari komitmen pemerintah dan bangsa Indonesia agar rakyat bisa hidup secara adil dan sejahtera.
“ Untuk mendukung Deli Serdang yang sejahtera, kita siap secara penuh mendukung dan memenangkan Balon yang memenuhi kriteria kepemimpinan dimaksud “ tegas Poernomo. (d)
Tokoh Jangan Paksakan Diri Jadi Balon DPD
MEDAN,METROPOST
Ketua Komite Masyarakat Pemantau Penyalahgunaan Kekuasaan (KOMPPAK) H.S.Poernomo menyesalkan adanya temuan verifikasi KPU Sumut atas penggunaan KTP kadaluarsa sebagai dukungan yang dipersyaratkan terhadap Balon DPD Sumut serta munculnya klaim masyarakat terhadap penggunaan KTP tanpa izin . Persoalan lain yang muncul terkait Balon DPD Sumut adalah pihak KPU Sumut yang masih memberi prioritas Balon yang mendaftar meski masa pendaftaran yang ditentukan telah lewat.
Hal ini semakin memperburuk citra Legislatif dimata rakyat setelah berbagai kasus mencuat kepermukaan yang menyeret beberapa anggota Legislatif ke pengadilan.
Poernomo mensinyalir, banyaknya tokoh yang “lompat pagar” mendaftarkan diri sebagai Balon DPD tidak lebih untuk memperkokoh status mereka di mata masyarakat, sehingga berbagai carapun dilakukan.
“Contoh buruknya adalah penggunaan KTP pendukung kadaluarsa dan tanpa izin dari pemegang KTP . Ini bukti bahwa mereka sangat berambisi untuk menjadi Balon DPD “ ungkap Poernomo.
Untuk itu dia minta agar para tokoh jangan memaksakan diri menjadi Balon DPD jika pada kenyataannya mereka tidak memiliki dukungan sebagaimana diatur dalam Undang Undang Pemilu dan berbuat curang sebelum mereka dipilih rakyat.
“ Seharusnya budaya malu sebagai tokoh ditanamkan dalam diri para Balon, agar rakyat tidak semakin tersesat seperti yang terjadi saat ini. Seperti kasus yang ditangani KPK seharusnya jadi pelajaran bagi para pejabat baik eksekutif maupun legislatif “ ujar Poernomo. (is)
Medan Krisis Kepemimpinan
MEDAN, METROPOST
Gara-gara Walikota dan Wakil Walikota Medan menjalani proses hukum akibat dugaan Korupsi, kota Medan seperti mengalami krisis kepemimpinan . Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan Pemko Medan selama ini hanya ada di satu tangan , rapuh dan tidak menerapkan manajemen pemerintahan secara profesional. Hal ini bisa dibuktikan pasca ditahannya Walikota Abdillah dan Wakil Walikota Ramli akibat berbagai kasus yang mengarah keterlibatan berbagai jajaran di lingkungan Pemko Medan.
Warga mengeluhkan ketidak becusan para pelaksana tugas dan tanggung jawab instansi terkait, seperti Dinas Kebersihan,Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Pendidikan, Dinas TKTB dan Dinas terkait lainnya. Semua seperti kehilangan pedoman kerja, padahal mereka berkewajiban menjalankan tugasnya sebagai aparatur pemerintahan.
Hal ini dikatakan Ketua Komite Masyarakat Pemantau Penyalahgunaan Kekuasaan (KOMPPAK) H.S.Poernomo kepada wartawan, di Medan kemarin (22/7) menanggapi kondisi kota Medan belakangan ini.
Dia menambahkan, seharusnya dalam sebuah organisasi pemerintahan, aktif atau tidak aktifnya Walikota maupun Wakil Walikota secara bersinergi semua intansi terkait tetap dapat melaksanakan pelayanan publik sebagaimana mestinya.
Sekarang kita melihat sampah berserakan dan menumpuk dimana-mana, jalanan dan drainase hancur, pengurusan KTP dan KK berbulan-bulan dan sebagainya. Alasan mereka sederhana, tidak ada anggaran atau takut merealisasikan pekerjaan dan diperiksa KPK.
Begitu juga peranan DPRD Kota Medan semakin lemah padahal seharusnya mereka mampu menjembatani antara kepentingan dan kebutuhan warga dengan pihak Pemko.
“ Kenyataannya sekarang semua institusi seakan mati suri dan tak mampu berbuat bagi warganya “ ujar Poernomo.
Dia juga menyesalkan sikap para aparatur pemerintah dan Legislatif yang terkesan “buang badan” setelah KPK gencar melakukan pemeriksaan. Poernomo menduga, amburadulnya pelayanan publik di kota Medan saat ini tidak terlepas dari sikap ketakutan atas keterlibatan mereka yang selama ini menggantungkan hidupnya kepada Walikota dan Wakil Walikota sehingga pada saat Pimpinan mereka bermasalah tidak mampu lagi menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagaimana mestinya.
“Jika mereka tidak berkonspirasi kenapa harus takut, jalankan saja tugas dan kewajiban setiap Instansi sebagaimana mestinya termasuk para anggota DPRD Medan“ tegas Poernomo. (if)