Disesalkan Pelanggaran Pengelolaan Lingkungan Di Medan

Juli 23, 2008

Medan, METROPOST

Lembaga Perlindungan Konsumen, Lingkungan Hidup dan Pemberdayaan Ekonomi Swadaya Masyarakat Pelita (LSM PELITA) menyesalkan banyak terjadinya pelanggaran pengelolaan lingkungan dalam pembangunan Kota Medan saat ini. Pelanggaran tersebut dibuktikan dengan semrawutnya perizinan terhadap rumah dan bangunan, gedung-gedung yang melebihi batas kelayakan, penggusuran bangunan sekolah menjadi pertokoan, penimbunan , pelurusan dan pembangunan di alur sepanjang sempadan sungai, maupun perubahan kawasan tadah hujan menjadi perumahan, drainase yang tidak terkelola serta sampah yang menumpuk dimana-mana.

Ketua LSM PELITA H.S.Poernomo didampingi unsure pengurus M.Amin , Dimas dan M.Ifa Nasution  mengatakan kepada wartawan di Medan kemarin terkait dengan buruk dan lemahnya manajemen perencanaan pembangunan pemerintahan Kota Medan menyangkut Tata Ruang Kota dan pengelolaan lingkungan hidup.

Ditambahkannya, dengan kondisi tersebut menyebabkan kota Medan mengalami berbagai dampak lingkungan yang cukup signifikan. Selain itu tidak adanya pengawasan dan tindakan terhadap perusahaan-perusahaan industri pengolahan yang membuang limbahnya baik melalui tanah, sungai maupun udara, ecara sistimatis masyarakat kota Medan akan mengalami dampak psikologis dan gangguan kesehatan atas pengelolaan lingkungan dan tata ruang yang buruk tersebut.

“Ini sangat tidak relevan dengan tujuan pembangunan kota Medan yang seharusnya terencana dan terukur bukan sekedar untuk mengejar Pendapatan Asli Daerah yang notabene ternyata tidak jelas penggunaannya  dengan mengorbankan  kepentingan lingkungan “ ungkap Poernomo.

Poernomo mengatakan , pemerintahan Kota Medan dinilai telah melakukan pelanggaran terhadap Undang-undang nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, PP NO. 27 tahun 1999 tentang Amdal, PP nomor 35 tahun 1991 tentang sungai, Peraturan Menteri PU nomor 63 tahun 1993 tentang garis semapadan sungai dan Perda nomor 5 tahun 1995 garis sempadan sungai.

Selain itu, tindakan pelanggaran lain yang sangat disesalkan terkait penjualan dan pemindahan kebun binatang dari lokasi di Kampung Baru ke lokasi Simalingkar . Beberapa hewan dari kebun binatang  tersebut diketahui saat ini berkurang karena mengalami kematian . Bisa jadi kematian hewan-hewan pasca pemindahan diduga disebabkan trauma dan dilakukan secara sporadic tanpa kajian yang akurat.

“ Ini menunjukkan kota Medan dibangun tanpa memperhatikan pelestarian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati dan Dinas yang menangani masalah Lingkungan Hidup tidak berfungsi sebagaimana mestinya “ ujar Poernomo.

Ditegaskannya, sebagai lembaga yang konsern terhadap perlindungan konsumen dan pengelolaan lingkungan hidup, LSM PELITA minta agar aparat penegak hukum mengambil langkah-langkah konkrit terhadap terjadinya pelanggaran pengelolaan lingkungan hidup yang berdampak pada kerugian masyarakat dari sudut social, ekonomi dan kesehatan. Dia juga mendukung sepenuhnya upaya Ketua Bapedalda Sumut Prof H.Syamsul Arifin,SH,MHk dalam pelestarian lingkungan melalui kampanye bertemakan ubah perilaku , cegah pencemaran lingkungan.

“LSM PELITA masih menginventarisir berbagai  pelanggaran lingkungan yang terjadi termasuk limbah dari industri pengolahan yang ada di Medan dan akan bekerjasama dengan berbagai pihak dalam upaya hukum sebagaimana diatur dalam UU tentang pengelolaan lingkungan hidup” ungkap Poernomo. ( if)

GPMJ Sumut Peduli

Desember 22, 2007

sripanda0011.jpgSerahkan Buku Penyuluhan Narkoba Ke SMP Alwasliyah Ampera II

METROPOST : Untuk kesekian kalinya Pengurus Besar Gerakan Peduli Masyarakat Jawa (GPMJ) Sumut menyerahkan secara gratis buku-buku penyuluhan tentang pencegahan penyalahgunaan narkoba ke sekolah-sekolah dalam rangka kepedulian sosialnya dalam membantu pemerintah memberi penyuluhan melalui buku penuntun.

Buku-buku penuntun tersebut sangat berharga karena mengandung unsur edukasi yang sangat bermanfaat bagi remaja khususnya pelajar, sehingga dapat dijadikan koleksi perpustakaan disekolah. Diharapkan dapat dimanfaatkan oleh para murid, guru maupun orang tua sehingga bahaya narkoba dapat dicegah dilingkungan sekolah khususnya dan keluarga umumnya.

Demikian dikatakan Ketua Umum PB GPMJ Sumut H.S.Poernomo didampingi Bendahara Umum Muhammad Amin Mendung saat menyerahkan buku-buku gratis tersebut yang diterima langsung oleh Kepala Sekolah SMP Swasta Al Washliyah Ampera II, Drs Sri Panda Amd, Sabtu (15/11).

“GPMJ menyerahkan buku-buku ini secara gratis untuk bahan bacaan di perpustakaan sekolah karena buku-buku ini juga didapat gratis dari Badan Narkotika Nasional . Tujuan kami agar bermanfaat bagi sekolah ini “ ujar Poernomo.

Sementara Drs Sri Panda AMd menyampaikan terima kasih atas kepedulian social yang telah ditunjukkan oleh Gerakan Peduli Masyarakat Jawa (GPMJ) demi kepentingan generasi muda bangsa melalui penyerahan buku-buku tersebut.

“Apa yang dilakukan organisasi GPMJ merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Jawa khususnya dan masyarakat Sumut umumnya. Kepedulian ini seharusnya menjadi contoh bagi organisasi / paguyuban lainnya, karena kepedulian itu berbagai bentuknya “ ungkap Sri Panda. Turut mendampingi Sri Panda beberapa guru disekolah tersebut. (am)

70 Persen Jalan-jalan Di Medan Pada Hancur

November 21, 2007

HANCUR

METROPOST : Pembangunan kota Medan yang metropolitan selain hanya diujung bibir saja juga terkesan tidak direncanakan matang. Prioritas pembangunan hanya membangun hotel-hotel dan plaza-plaza yang secara nyata hanya untuk kepentingan segelintir masyarakat tertentu saja. Bahkan untuk kepentingan tersebut Pemko Medan rela mengorbankan kepentingan warganya , banyak rumah dan gedung sekolah yang tergusur, peralihan arus lalu lintas, bongkar pasang taman dan trotoar jalan hingga diabaikannya perbaikan dan perawatan jalan serta drainase.

Dampaknya, selain mengganggu kenyamanan warga yang menggunakan sarana jalan dan trotoar, menimbulkan banyak kemacetan juga menambah beban ekonomi masyarakat. Warga dibiarkan mengelus dada, menahan napas dan mengumpat.

Hasil pantauan Koran ini hampir 70 persen jalan-jalan di kota Medan mulai dari pusat kota hingga kepinggiran mengalami kerusakan parah dan dibiarkan hingga hancur lebur. Seperti dikawasan Medan Johor.

Saat Koran ini melintas di Jalan Karya Jaya tampak lobang-lobang bak kubangan kerbau di badan jalan tersebut sehingga kemacetan terjadi mulai dari simpang lapangan sejati hingga arah ke Namurambe. Selain itu, banyak truk-truk container dan truk pembawa kayu-kayu gelondongan melintas jalan tersebut sehingga semakin memperparah kondisi jalan.

Herannya, tidak ada tindakan dari aparat terkait berkenaan dijadikannya jalan tersebut sebagai lintasan truk-truk berbobot puluhan ton. Padahal kekuatan badan jalan sangat tidak sebanding dengan bobot truk-truk container dan kayu gelondongan yang melintas secara rutin.

Begitu juga di Jalan Karya Amal yang menjadi jalan alternatif bagi warga melalui Jalan Karyawan samping Asrama Haji tembus ke Jalan Karya Cipta, sudah cukup lama mengalami kerusakan dan hingga berita ini diturunkan tidak ada upaya perbaikan dilakukan instansi terkait.

Camat Medan Johor, Pulungan, yang dihubungi Koran ini melalui ponselnya, Selasa lalu menyebutkan, pihaknya sudah mengajukan sebelum musim haji ke Dinas Pekerjaan Umum Kota Medan soal perbaikan kerusakan jalan di kawasannya. Menurutnya, hingga saat ini belum ada tanggapan dari instansi tersebut.

Ketika Koran ini menghubungi Kepala Dinas PU Medan melalui ponselnya ternyata tidak aktif. Selanjutnya Koran ini mencoba mengirim SMS ke nomor ponsel Kadis terkait kerusakan badan jalan di kawasan Medan Johor, dengan harapan keluhan masyarakat sampai kepadanya.

Sementara warga sekitar, seperti bu Mul sangat mengharapkan adanya perbaikan jalan Karya Amal dan beberapa jalan di kawasan Medan Johor mengingat saat ini musim hujan akan semakin memperparah kondisi jalan.

Begitu juga warga lainnya yang membuka usaha di sekitar Jalan Karya Jaya mengeluhkan tidak adanya perhatian pihak Pemko Medan maupun Camat untuk menindak truk-truk container maupun pengangkut kayu gelondongan agar tidak melintasi kawasan tersebut. Selain, kekuatan badan jalan yang tidak sesuai juga diketahui kawasan tersebut sebenarnya kawasan tadah hujan sehingga tanahnya lembek.

“ Jika perlu di kawasan tersebut dipasang palang besi agar truk-truk tidak melintas. Ini semua untuk kepentingan umum karena pengguna jalan dikawasan tersebut semakin hari semakin padat “ ungkap warga.

Ditempat terpisah, Ismail Nasution (32) warga Jalan Mandala juga mengeluhkan kondisi jalan Mandala yang masih saja rusak. Bahkan ia menyesalkan ketidak pedulian Pemko Medan cq Dinas PU yang membiarkan kerusakan jalan semakin parah.

Kondisi jalan di Medan yang hampir menyeluruh mengalami kerusakan menimbulkan tandatanya . Jika alas an tidak ada anggaran untuk itu, menurutnya itu hanya alas an yang tidak masuk diakal. Kinerja Dinas PU dan Pemko Medan perlu dipertanyakan, mereka memiliki tanggung jawab terhadap kepentingan masyarakat. “Jangan-jangan anggaran yang berasal dari uang rakyat sudah “ditelap” untuk kepentingan mereka, sementara kepentingan masyarakat diabaikan , kalau warga marah karena dirugikan siapa yang bertanggung jawab “ ungkapnya tegas menunjukkan kecewaannya.

Medan Tergenang Air.

Sementara itu, hasil pantauan Koran ini dilapangan hujan lebat yang turun Sabtu (15/12) menyebabkan sejumlah ruas jalan utama di Medan tergenang air, kemacetan panjang pun terjadi.

Hujan lebat turun secara merata sejak pukul 16.00 wib dan masih berlangsung hingga pukul 17.30 wib hampir semua wilayah Medan dilanda hujan Dibeberapa titik volume hujan cukup banyak menyebabkan air menggenangi sejumlah ruas jalan seperti di jalan Letda Sujono, jalan Djamin Ginting, Jalan Kapten Muslim, jalan Mandala by pass, jalan Denai , Jalan Gatot Subroto, Jalan Krakatau, Jalan Pelita VI ,jalan dr Mansyur, dan Jalan Kereta Api .

Di kawasan jalan Denai terjadi kemacetan akibat ketinggian air 30 centimeter membuat puluhan mobil terpaksa berjalan pelan menghindari lobang sementara sepeda motor memilih berbalik arah karena khawatir mogok terendam air.

Warga yang ditemui Koran ini menyebutkan, tergenangnya air selalu terjadi jika hujan turun berkepanjangan. Salah satu penyebabnya karena drainase yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya selain semakin dangkal juga penuh sampah.

“Seharusnya pihak Pemko Medan cepat tanggap mengingat saat ini curah hujan cukup tinggi dengan melakukan pengerukan dan perbaikan saluran drainase. Warga jangan disalahkan sebagai penyebabnya dengan alas an sampah, tapi instansi terkait seharusnya bertanggungjawab melaksanakan tugasnya apalagi untuk kepentingan umum “ tegas warga lagi.(if)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.