Soal Pilgubsu 2008
Jangan Bodohi Rakyat Dengan Tebar Pesona Dan Janji
* Forkom Berjabat Terbentuk
METROPOST : Lagi-lagi gaung Pilgubsu 2008 terus menjadi perhatian public tidak saja kalangan elit politik namun kalangan masyarakat bawah ikut terimbas. Para tokoh yang selama ini mencuat di berbagai media massa ternyata juga mengalamai perubahan, ada sekedar wacana, ingin popular, mau maju tapi malu, ambil formulit di Parpol tapi tak mendaftar, bahkan disinyalir ada yang pasang tariff, hingga saling ganjal mengganjal sesame tokoh. Ntah motivasi apa yang ada dibenak mereka sehingga menyebabkan begitu ramainya tokoh yang mau maju menjadi Balon Gubsu dan Wagubsu kali ini.
“Ada kesan pembodohan politik terjadi menjelang Pilgubsu 2008 dengan gencarnya para tokoh mensosialisasikan dirinya mulai dari pasang spanduk, baliho, brosur, kalender hingga stiker. Padahal saat ini seharusnya mereka tidak mengaku-ngaku dirinya Calon karena pertandingan sama sekali belum dimulai “ ungkap Bambang Setiawan, Sekretaris Umum PB GPMJ Sumut kepada Koran ini di Medan, kemarin.
Menurutnya, sekarang cencerung para tokoh mempolitisir dirinya sebagai Calon bahkan ada yang sudah memasang sepanduk dan iklan sebagai pasangan Calon.
‘ Saat ini hanya Partai Golkar dan PDIP yang berhak mengajukan pasangan Calon, Parpol lainnya harus koalisasi. Sedangkan pendaftaran di KPU baru dimulai Januari 2008 tapi mereka sudah mengklaim dirinya Calon. Ini jelas sebagai bentuk pembodohan politik . Yang dipertanyakan, yang “bodoh” itu mereka apa rakyat ? “ ujar Bambang.
Tebar Pesona dan Gombal
Meski belum jelas apakah tokoh-tokoh,selain Ali Umri dari Partai Golkar, bakal lolos dari penjaringan Parpol yang akan berkoalisi , namun mereka secara sporadic terus melakukan tebar pesona dan gombal keberbagai pelosok. Kebanyakan masih menggunakan pola tradisional seperti mengadakan silaturahmi, bergabung dalam kegiatan kemasyarakat, memberi bantuan atas nama social, membuat dan menyebarkan brosur, kalender dan sebagainya serta dukunga dari berbagai etnis. Bahkan mendapat gelar adat dari etnis tertentu.
“ Semua sah-sah saja karena KPU pun tidak berani bertindak atau menegur. Namun, kenapa itu semua muncul pada saat akan dilaksanakannya Pilkada, sepertinya begitu mudah seseorang mendapatkan gelar adapt maupun dukungan “ ungkap Suharto, wiraswasta yang ditemui Koran ini di Hotel Dharma Deli Medan, Rabu (28/11) lalu.
Ditambahkannya, jika semua tokoh saling berlomba ingin mendapatkan dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan menebar pesona dengan harapan masyarakat mendukungnya, tentu pada sebagian orang akan timbul tudingan semua itu gombal dan hanya sesaat.
Yang jelas, kata Suharto, setiap orang yang ambisi akan berusaha menonjolkan dirinya bahwa ia lebih baik dari yang lain. Jadi biarlah nanti masyarakat yang menilai layak atau tidak layaknya tokoh tersebut menjadi pemimpin mereka.
“ Sifat ingin menonjol ini akan dilakukan dengan berbagai cara, bahkan akan muncul fitnah dan saling menjelekkan satu sama lain. Ini bisa saja terjadi mengingat para tokoh yang akan maju juga belum memahami bagaimana berpolitik yang santun “ ungkap Suharto.
Forkom Berjabat Dibentuk
Sementara itu , beberapa tokoh Jawa dan Batak, Rabu (28/11) lalu di Hotel Dharma Deli Medan mengadakan silaturahmi untuk membentuk Forum Komunikasi yang akhirnya disebut sebagai Forum Komunikasi Bersatu Jawa Batak (Forkom Berjabat).
Menurut penggagas silaturahmi tersebut, J.Sihaloho dan H.S.Poernomo, Forkom Berjabat dimaksudkan untuk lebih mempererat tali silaturahmi dan komunikasi antar etnis yakni Jawa dan Batak, sekaligus untuk menyikapi bergulirnya wacana Balon Gubsu dan Wagubsu dari etnis Jawa dan Batak dalam Pilgubsu mendatang.
Dengan dukungan berkisar 70 an tokoh dan warga Jawa serta Batak , silaturahmi tersebut menghasilkan kesepakatan terbentuknya Forum Komunikasi Bersatu Jawa Batak (Forkom Berjabat) dan Tim 11.
“ Tim 11 Forkom Berjabat nantinya akan menyiapkan dan mematangkan berbagai hal termasuk mendukung pasangan pelangi Jawa Batak dalam Pilgubsu mendatang “ ujar J.Sihaloho kepada Koran ini.
Sedangkan H.S.Poernomo salah seorang penggagas menambahkan, Forkom Berjabat dalam waktu dekat segera mensosialisasikan diri ditengah-tengah masyarakat Sumut termasuk mensosialisasikan tokoh-tokoh Jawa Batak yang dinilai layak mendapat dukungan dari warga mayoritas Jawa dan Batak.
Forkom Berjabat, tambahnya, juga siap menampung aspirasi masyarakat maupun para Balon Gubsu dan Wagubsu dari tokoh Jawa-Batak untuk kepentingan dan kemajuan masyarakat Sumut baik jangka pendek maupun jangka panjang.
Perlu dipertegas, kata Poernomo, bahwa Forkom Berjabat tidak membawa nama organisasi / lembaga ataupun parpol dari para tokoh yang hadir, tapi merupakan gabungan tokoh tokoh Jawa dan Batak yang secara kebetulan berada dalam organisasi / lembaga maupun parpol masing-masing.
“ Forkom Berjabat ini dibentuk tidak membawa nama organisasi/lembaga maupun parpol , bukan pula karena menjelang Pilgubsu maupun Pilkada, namun aksesnya jauh kedepan yakni menjalin silaturahmi dan komunikasi dua etnis Jawa dan Batak untuk bersama-sama membangun masyarakat, wilayah, bangsa dan Negara sesuai dengan semboyan NKRI Bhineka Tunggal Ika “ tegas Poernomo (am)