Ungkapan hati seorang jamaah thariqat naqsabandiyah :
Orang Thariqat Tidak Ada Yang Penakut
Oleh : Indria Prima Handayani*)
Sebagai rasa penghormatan kepada Guruku yang mursyid, tulisan ini kupersembahkan untuk memeriahkan acara Haul Guru ke-5 tahun 2007 walau sangat sederhana dan banyak kekurangannya. Aku menyadari bahwa sebagai seorang jamaah yang sedang menuntut ilmu di Fakultas Pertanian Unpad Bandung, belum banyak yang diperbuat untuk kepentingan dan kemajuan thariqat naqsabandiyah Yayasan jabal Qubis. Namun aku yakin bahwa dengan mengamalkan dzikir khofi yang diajarkan oleh Guruku secara terus menerus sampai akhir hayat sudah merupakan bentuk daripada pengabdian kepada seorang guru dan sebagai pembentukan rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasulnya. ————–
Aku mulakan dengan mengucap “ Bismillahirrahmaanirrahiim “. Maha Besar Allah yang telah memberikan kesehatan dan berkat RidhoNya-lah aku mendapat kesempatan untuk menuangkan segala ungkapan hati ke dalam tulisan ini. Shalawat dan salam yang berkepanjangan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Saw yang telah memberikan syafaat kepada ummatnya, serta salam hormat dan khidmat yang tiada putus-putusnya kepada rohaniah Guru Mursyid dan ahli silsilah naqsabandiyah karena berkat bimbingannyalah tulisan ini telah rampung.
Sewaktu bersilaturahim kepada Guruku Saidi Syekh H.Amir Damsar Syarif Alam tahun 2002 (hendak pamitan pulang ke Bandung sehabis suluk) , beliau pernah berpesan kepadaku : “ Berteman dan bergaullah seperti biasa “ , dan pesan tersebut masih terus menjadi panutan bagiku dan karena itu pulalah aku bisa berteman baik dengan siapa saja baik sesama jamaah maupun diluar jamaah termasuk kepada seorang teman yang memberikan informasi tentang beasiswa penelitian ke Jerman. Sungguh, awalnya dalam pikiranku bertekad untuk tidak bergaul dengan orang-orang diluar jamaah thariqat naqsabandiyah karena pasti akan terpengaruh oleh mereka. Namun hal itu jelas tidak benar. Andaikan aku tidak mendengarkan pesan Guruku tadi, aku tidak akan pernah tahu tentang beasiswa penelitian ke Jerman yang akan mengantarkanku kepada kesuksesan sampai kapanpun.
Jikalau pengaruh negatif datang menghampiri, maka dengan banyak berdzikir yang istiqomah tentu saja pengaruh negatif itu bukan merugikan melainkan menguntungkan karena cinta Allah dapat dibuktikan dengan didatangkannya cobaan-cobaan . Jalaluddin Rumi, salah satu tokoh sufisme yang terkenal dan beliau adalah pengikut thariqat berkata, “ Oleh karena itu, selama kamu menemukan luka dan kekecewaan dalam dirimu , itulah bukti cinta dan bimbingan Allah “. Jadi, tidak ada yang perlu ditakuti oleh jamaah thariqat atas pengaruh negatif yang datang.
Mengikuti slogan Honda, salah satu perusahaan otomotif terkemuka di dunia saat ini yaitu “ The Power of Dreams “. Slogan itu sangat memberikan inspirasi dan motivasi bagiku untuk tidak takut mengejar cita-cita sampai ke negeri Cina. Itu pulalah sebabnya beasiswa penelitian ke Jerman tahun 2006 selama 6 (enam) bulan kemarin aku ambil meskipun pada masa itu gambar karikatur Nabi Muhammad Saw yang dikarang oleh orang Swiss yang letak negaranya berdampingan dengan negara Jerman sedang marak-maraknya, apalagi isu terorisme yang identik dengan orang-orang muslim sebagai pelakunya sedang merebak di seluruh dunia. Apalah yang akan mereka lakukan terhadapku ketika mereka mengetahui bahwa aku adalah mahasiswi berkewarganegaraan Indonesia dan beragama Islam ?
Banyak keragu-raguan yang datang kepadaku menjelang keberangkatan ke Jerman. Keraguan tersebut sungguh meresahkan hati. Disatu sisi aku ingin menambah pengalaman hidup di negeri Jerman yang kaya akan ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi canggihnya yang terkenal itu. Disisi lain, aku ragu bahkan tidak yakin akan lulus seleksi dan terus terang aku takut menghadapi para Post Nazi dan orang-orang yang mungkin anti dengan Islam. Tidak hanya itu, aku juga takut apabila sekembalinya aku ke Indonesia bukannya bertambah baik akhlakku melainkan bertambah buruk bahkan goyah keimanannya.
Benarlah seperti dikatakan oleh Saidi Syekh H.Amir Damsar Syarif Alam dalam bukunya “ Tuntunan Mencari Al Ulama Wartsatul Anbiya “ 2003, mengutip sabda Rasulullah Saw tentang ciri-ciri ulama yang menuntun kita dari lima kepada lima, salah satu diantaranya adalah dari keragu-raguan, was-was, entah ya entah tidak, menjadi kepada keyakinan. Alhamdulillah berkat bimbingan Guru yang mursyid , segala keragu-raguan yang timbul akibat penuhnya setan di nafsun natiqah sehingga aku sering berangan-angan jauh dan berkhayal yang muluk-muluk, dapat dihiraukan/diabaikan sehingga keyakinan diri untuk terus mengejar cita-citapun bisa tercapai.
Nasihat Tuan Guru Syekh H.Ghazali An Naqsabandi sebagai pewaris dan penerus perguruan thariqat naqsabandiyah Yayasan Jabal Qubis sebelum keberangkatan ke Jerman masih segar di pikiranku. “ Yang lain-lain jangan dipikirkan, berangkat saja ke Jerman dan belajarlah baik-baik dinegeri orang “, kata beliau. Kalaulah aku boleh menuangkan maksudnya di tulisan ini, ternyata ketakutan-ketakutan yang terbesit di dalam pikiran hanya bisikan setan saja sebagai daya upayanya agar kita tidak mendapatkan sukses dunia dan akhirat. Mohon ampun kepada Allah atas segala kesalahanku dalam berkata-kata….hanya Allah yang Maha Ingat.
Hormat dan khidmat yang berkepanjangan yang tiada putus-putusnya kepada Rohaniah Guru Mursyidku Saidi Syekh H.Amir Damsar Syarif Alam, yang telah membimbingku dengan kasih sayangnya, kesabarannya, dan lemah-lembutnya sehingga dapatlah aku utarakan disini kebenaran akan firman Allah SWT yang artinya : “ Hai orang-orang yang beriman, taqwalah kepada Allah dan jadilah kamu beserta dengan orang yang benar!” (QS: At Taubah 119)
Kalaupun segala yang ditakuti benar-benar terjadi, aku memilih menyerahkan diri kepada Allah Maha Besar, Illahi anta Maqsudi waridhoka mathlubi . Maka benarlah bahwa “ Orang thariqat tidak ada yang penakut “. Begitu kata Tuan Guru Syekh H.Ghazali An Naqsabandi pada suatu kesempatan suluk sedang berlangsung. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatunya, mudah-mudahan aku bisa istiqomah melaksanakan dzikirullah sampai kapanpun. Aku mohon syafaat dan bimbingan Guru Mursyid selalu ….
Aku ini bukanlah siapa-siapa di mata Allah. Tiada daya upayaku melainkan daya dan upaya Allah sehingga keberangkatanku ke Jerman dipenuhi dengan berkah dan ridho-Nya. Izinkan aku menceritakan sedikit tentang keberangkatanku ke Jerman dalam tulisan ini. Sehari sebelum keberangkatan, ibuku bertemu dengan seorang penumpang mobil carteran menuju Jakarta yang juga kami tumpangi. Aku tidak mengenal siapa bapak itu juga tidak berkenalan dengannya. Ibuku bercakap-cakap dengannya sebentar saja pada waktu itu. Keesokan harinya pas keberangkatan dimana pesawat akan take off pada malam hari pukul sepuluh. Check-in telah dilakukan dan kini saatnya penimbangan bagasi. Aku membawa banyak barang sehingga bagasi overload. Aku harus meninggalkan beberapa barang atau harus membayar denda lebih kurang Rp 3 juta. Aku tidak mungkin meninggalkan beberapa barang yang akan dibawa ke Jerman karena barang-barang tersebut sangatlah penting. Ibuku datang menghampiriku untuk mengusahakan agar bagasiku bisa direlease, padahal selain penumpang pesawat, tidak dibenarkan/diizinkan satu orangpun masuk kedalam ruangan chekc-in oleh petugas security.
Namun, ibuku bisa dengan mudah masuk ke dalam ruangan chekc-in. Kemudian, seorang pria datang menawarkan bantuan, dan ternyata pria tersebut adalah bapak yang kemarin menawarkan bantuan, dan ternyata pria tersebut adalah bapak yang kemarin berbincang-bincang dengan ibu di mobil carteran, yang bekerja di bandara Soekarno hatta bagian keberangkatan Internasional. Ia mengizinkan barang bagasiku yang overloaded untuk dibawa semua ke pesawat dengan membayar denda hanya sekitar Rp 400 ribu. Mengapa kami dipertemukan dengan bapak tersebut sehari sebelum keberangkatan ? Dan mengapa pula ibu diizinkan masuk ke ruangan check-in oleh petugas security padahal hal itu tidak dibenarkan?
Peristiwa tersebut menyadarkan aku bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang serta Maha Penyabar. Tidak sedikitpun aku mampu mensyukuri/membalas semua yang diberikan Allah kepadaku. Namun aku masih diberi kesempatan untuk mencicipi belajar di Jerman meskipun masih dalam gelimangan dosa-dosa bathin. Sungguh aku tidak sanggup berjalan sendiri menapaki liku-liku hidup di dunia ini tanpa syafaat dan bimbingan seorang Guru Mursyid. Nabi Saw bersabda : “ Maka memberi syafaatlah Nabi-nabi, para Malaikat dan orang-orang mukmin “.
Mohon diampunkan oleh Allah atas segala keselahanku dalam berkata-kata. Aku ingin sekali menjadi orang yang mendahulukan Adab daripada Amal. Oleh karena itu mohon kepada Allah agar memberikan petunjuk kepadaku selalu dan bermohon kepada Allah agar tidak diputuskan hubunganku dengan Rohaniah Guru Mursyidku selama-lamanya sebagai imam rohaniku dalam berdzikir dan bermunajat kepada Allah. Sampai dengan detik ini, aku masih menjadi orang yang tidak padai bersyukur , dan masih terus membutukan bimbingan dan nasehat dari Tuan Guru Syekh H.Ghazali An Naqsabandi sebagai penerus Guruku yang Mursyid yang telah berlindung ke haribaan Allah SWT.
Semoga kritikan, solusi dan nasehat yang tertuju kepada tulisan ini terus mengalir dan semoga memberikan manfaat kepadaku khususnya dan pembaca pada umumnya. Amiin…amiin… ya robbal alamiin.
*) Penulis adalah mahasiswi Unpad Bandung. Masuk thariqat naqsabandiyah sejak kelas 3 SMU tahin 2001.
Maret 13, 2009 pada 12:57 pm |
Jika boleh saya ingin berkenalan dengan penulis ini, saya juga seorang jamaah TQN. Terimakasih